DEMAM TIFOID


  1. ANAMNESIS
  • Demam naik secara bertahap pd minggu pertama lalu demam menetap pd minggu kedua. Suhu meningkat terutama sore dan malam hari.
  • Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada umumnya seperti demam, sakit kepala, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit perut, diare atau sulit buang air beberapa hari,
  • Setelah minggu ke dua maka gejala menjadi lebih jelas demam yang tinggi terus menerus, nafas berbau tak sedap, kulit kering, rambut kering, bibir kering pecah-pecah /terkupas, lidah ditutupi selaput putih kotor, ujung dan tepinya kemerahan dan tremor, pembesaran hati dan limpa dan timbul rasa nyeri bila diraba, perut kembung. Anak nampak sakit berat, disertai gangguan kesadaran dari yang ringan letak tidur pasif, acuh tak acuh (apati) sampai berat (delier, koma).
  • tubuh menggigil
  • denyut jantung lemah (bradycardia)
  • badan lemah (“weakness”)
  • nyeri otot myalgia
  • konstipasi
  • pada kasus tertentu muncul penyebaran vlek merah muda (“rose spots”)
  • nyeri ulu hati dan lambung
  1. PEMERIKSAAN FISIK UMUM
  • Febris, kesadaran berkabut, bradikardia relative (peningkatan suhu 1 c tidak diikuti peningkatan denyut nadi 8x/menit)
  • Lidah berselaput (kotor di tengah, tepid an ujung merah, serta tremor), hepatomegali, splenomegali, nyeri abdomen.
  1. PEMERIKSAAN PENUNJANG
  • Pemeriksaan rutin è leucopenia (< 3.000/mm3), anemia ringan, trombositopenia, laju endap darah meningkat. SGOT/SGPT biasanya menningkat tp mnjadi normal stelah sembuh dan peningkatan ini tdk perlu penangan khusus.
  • Uji widal è dilakukan untuk mendeteksi antibody thd S. typhi dengan mendeteksi adanya agglutinin dalam serum penderita.
  1. Agglutinin O (dari tubuh kuman)
  2. Agglutinin H (flagella kuman)
  3. Agglutinin Vi (simpai kuman)

Untuk diagnose tifoid yg digunakan adalah agglutinin o dan h, semakin tinggi titernya maka semakin besar kemungkinan terinfeksi kuman. Pembentukan agglutinin mulai terjadi pd akhir minggu pertama demam, kemudian meningkat secara cepat dan mencapai puncak pd minggu k – 4 dan tetap tinggi selama beberapa minggu. Pada fase akut mula – mula timbul agglutinin O , kemudian di ikuti agglutinin H. Setelah sembuh agglutinin O tetap dijumpai setelah 4 – 6 bulan, agglutinin H 9 – 12 bulan.

  • Kultur darah èjk hasilnya positif maka org tsb positif tifoid. Tetapi jika hasilnya negative belum tentu org tsb negative tifoid, hal ini dikarenakan banyak factor spt pemberian antimikroba, vol darah kultur kurang dan vaksin.
  1. NILAI NORMAL
  2. DAFTAR MASALAH
  • Demam remiten disertai lemas dan pusing
  • Mual muntah
  • Diare
  • Hepatomegali. Splenomegali dan sakit perut
  • leukositosis
  1. ASSASMENT
  • Demam, lemas, myalgia dan pusing (gejala reaksi inflamasi sistemik) à kuman – kuman yg berhasil lolos dari lambung kemudian berkembang biak dalam usus. Selanjutnya terjadi reaksi imunitas oleh mukosa usus jika responnya kurang baik maka kuman – kuman akan menembus sel2 epitel dan ke lamina propria. Di sini kuman berkembang biak dan difagosit oleh makrofag. Kuman yg berkembang dalam makrofag ini masuk kedalam sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh organ RES terutama hati dam limpa. Di dalam hati kuman masuk kedalam kandung empedu, berkembang biak, dan bersama cairan empedu disekresikan secara “intermittent” ke dalam lumen usus. Setelah itu proses yg sama terulang lagi namun makrofagnya telah teraktivasi dan hiperaktif sehingga pd saat fagositosis kuman terjadi pelepasan mediator inflamasi yg menimbulkan gejala seperti diatas.

Plan diagnosis àanamnesis yg tepat dan pemeriksaan fisik dengan pengukuran menggunakan thermometer.

Plan terapi à istirahat yg cukup untuk mencegah terjadinya komplikasi. Untuk mengurangi gejala demam dan pusing biasanya diberikan paracetamol.

  • Mual muntah è Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hatidan limpa, Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.
  • Diare atau Mencret è Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).

Plan diagnosis à anamnesis yang baik dan tepat ditambah pemeriksaan fisik pada abdomen untuk mendengarkan bising perut.

Plan terapi à biasanya diberikan makanan yg berupa bubur untuk menghindari komplikasi perdarahan saluran cerna.

  • Hepatomegali. Splenomegali dan sakit perut è kuman yg sudah berkembang biak dalam makrofag masuk kedalam RES terutama hati dan limpa. Dan berkembang biak disana.

Plan diagnosis à pemeriksaan abdomen.

  • Leukositosis è
  1. TERAPI

Karena demam ini disebakan oleh bakteri maka pengobatannya diberikan antimikroba seperti kloramfenikol, tiamfenikol, kontrimoksazol, ampisillin, sefalosporin,.