she left me…

Masih teringat dengan sangat jelas rangkaian kata-kata nenek ipung,

“inae anae, morinawamue, kombi loa ja raka ba nami doho doktermu re anae…”

aku  yang mendengar kalimat tersebut hanya menggangguk mengiyakan dalam hati sambil membayar minuman yang ku beli dari kiosnya.

Itulah terakhir kali aku bertemu dengannya saat liburan lebaran tahun lalu. Dan akhirnya kudengar berita dari mama bahwa ia telah meninggal beberapa minggu yang lalu.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Semoga engkau bahagia di Sisi-Nya..

Dan hari ini, Minggu, 07 Maret 2010 jam 08.40 sms datang dari adikku yang berisi:

Assalam,.d,era dina udh mening2l dunia.

Innalillahi wa innailaihi rojiun…

Ya Allah, dina… ya dina, ia yang telah kuanggap sebagai adikku sendiri meninggal di kota tempat aku kuliah sekarang, Mataram. Ia meninggal karena pembengkakan akibat operasi usus buntu yang dilakukan di Dompu dan akhirnya dirujuk di Mataram.

Ya Allah…

sudah tidak ada lagi adik yang memanggilku “d era” bila aku lewat di depan rumahnya

sudah tidak ada lagi adik yang selalu tertawa renyah jika mendengar hal-hal yang lucu

sudah tidak ada lagi teman yang menemaniku untuk memanjat pohon jambu di belakang rumah

sudah tidak ada lagi teman untuk bermain benteng, bulutangkis, kasti, dan sepeda

sudah tidak ada lagi teman bertengkar untuk dian, ruri dan ais

sudah tidak ada lagi adik usil yang walaupun demikian tetap aku sayang

dan kini…

ia meninggalkan kami ya Allah,

bukan untuk sementara, tapi selamanya….

sekelebat bayangnya dengan rambut gaya maia ahmad yang menggunakan celana jins selutut dipadu dengan baju kaos biru menghampiri ingatanku, tertawa yang meledak-ledak sambil berebutan rujak. Ya.. itulah yang membuatku menagis hari ini…. terlalu banyak memori untuk dikenang bersamanya.

semoga engkau bahagia di sisi-Nya… Dinaku sayang….

kematian memang tidak bisa kita pastikan, kapan ia datang, siapa selanjutnya dan bagaimana cara ia datang, semuanya telah tertulis, tinta telah kering dan pena telah diangkat. Kisah ini membuatku tersadar bahwa kita mesti bersyukur masih hidup untuk hari ini. Kita mesti bersyukur bahwa kita masih bisa tertawa, menangis, masih bisa menghirup udara  dan masih bisa menikmati semua anugrah yang telah diberikan Allah SWT. Kita seharusnya  bersyukur bahwa kita masih diberi waktu oleh Allah untuk mengumpulkan bekal yang akan kita bawa di akhiratnya kelak. Marilah kita semua (dan saya juga tentunya) selalu bersyukur dan tetap mengingat Allah dalam tiap kesempatan, dalam tiap pekerjaan sehingga hal-hal yang kita lakukan dapat bernilai ibadah di sisi-Nya mumpung kita masih ada waktu saudaraku… . Karena tidak akan  ada seorang pun yang bisa menjamin bahwa kita masih hidup esok hari.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s