Nostalgia bersama Sahabat Seragam Merah Putih

Dua belas tahun, bukanlah waktu yang singkat untuk kembali merekam saat jejak-jejak kecil kami  meninggalkan sekolah yang telah kami lewati selama 6 tahun. Ketika itu, langkah-langkah mungil ini terekam oleh debu-debu lapangan sekolah, dedaunan pohon mangga dan tiang bendera yang selalu tegak berdiri di tengah lapangan sekolah kami tercinta. Sekolah Dasar Negeri 1 Dompu.

Menua, hal ini saya sadari setelah bertemu teman-teman SD. Bertemu, bertegur sapa, bercerita menjadi awal reuni kami siang hari ini. Terkadang terdengar tawa riuh dari kami semua, terkadang kami harus berdiam sejenak, mencoba mencari puing-puing memori untuk menciptakan satu cerita utuh yang mungkin saja hampir kami lupakan. Setiap cerita muncul, mengalir dan selalu diikuti oleh senyum hinga akhirnya cerita ini  muncul juga ke permukaan. Potongan memori segelintir siswa SD yang mendapat hukuman di dalam ruang kelas. SEMUANYA tanpa terkecuali !

Terkilir, mungkin bagi semua orang hanyalah suatu kata yang menurut KBBI berarti keseléo/ Jk v terpelecok; terkilir; salah urat. Tapi tidak bagi kami, siswa kelas IV A SDN 1 Dompu, 16 tahun yang lalu. Kata ini tidak hanya berarti keseleo namun menjadi kata kunci pembuka cerita hukuman sekelas, bencana besar yang pernah saya alami selama di SD.

Jika saja ada kamera video merekam dari balik kaca ruang kelas IV A yang telah dicat setengah putih itu. Ia akan merekam bagaimana seluruh murid dihukum karena tidak ada yang becus mengerjakan tugas Bahasa Indonesia. Tentu, akan menjadi bukti dan saksi dari tumpukan buku di atas meja guru yang hampir mencapai setengah meter satu per satu terbang, mengudara layaknya ahli kungfu  melayang dan akhirnnya terhempas di atas ubin abu gelap yang dingin.

Hari itu, sudah jelas, nasib baik tidak berpihak pada buku-buku bersampul kertas jagung ini, dan tentu saja, plus pemilik buku yang pucat pasi beringsut di bangku panjang dibalik mejanya.

Raut muka Pak Taufik, begitu kami memanggilnya, semacam singa yang siap menghabisi mangsanya. Kami yakin, tidak ada yang mengerjakan tugas tersebut dengan benar. Saat itu, satu-satunya harapan kami, hanyalah Dinda, murid terpintar di kelas kami saat itu.

Satu per satu buku melayang, mendarat di ubin, dan akhirnya seluruh buku !. Ini berarti, seluruh siswa salah mengerjakan tugasnya.

“ Satu pun dari kalian tidak ada yang benar!”

Kedua alis Pak Taufik bertemu membentuk jembatan menyeramkan bagi kami.  Sosoknya yang tinggi besar membuat kami, siswa satu kelas bergidik ngeri. Hingga akhirnya, lontaran lava keluar dari bibirnya.

“Tunjukkan tangan kalian ! TENGADAHKAN !”

Alamat akan dipukul, kami pun tersenyum kecut.

Asal anda tahu, alat pemukulnya bukanlah benda sembarangan. Ia adalah penggaris kayu dengan skala 0 cm-100 cm berwarna coklat tua dengan lebar +- 8 cm. The great Brown Ruler, yang bisa saja bagi kami saat itu menjadi barang keramat sekelas pedang Gryffindor di serial Harry Potter.

Pak Pak Pak Pak……..

Pak Pak Pak Pak……..

Habis sudah, telapak tangan kami yang awalnya berwarna pucat tersenyum malu-malu. Kemerahan.

Tak ayal, semua murid mengibas-ngibaskan tangan seperti hendak mengipasi badannya. Mencoba mengurangi nyeri. Yang agaknya, tak berhasil

Nyerinya hilang timibul, nyut-nyutan yang seakan ingin lepas namun tidak bisa.

Penasarankah anda? Apa gerangan tugas Bahasa Indonesia saat itu?. Tugasnya adalah menyusun kalimat  acak menjadi sebuah paragraf yang utuh. Biasanya tampilan soalnya akan berbentuk seperti ini:

(  ) bla bla bla bla

(  ) bla bla bla bla

(  ) bla bla bla bla

(  ) terkilir, bla bla bla bla

(  ) bla bla bla bla

Hanya karena satu kata, TERKILIR menjadi jebakan bagi saya dan teman-teman satu kelas. Jebakan yang menyebabkan hubungan antar kalimat menjadi tidak utuh dan paragraf menjadi tidak nyambung. Dan, awal mula malapetaka.

Saat itu, kami berkaca-kaca. Saya dapat sangat jelas merasakan cairan hangat di pelupuk mata. Sangat terasa hangat.

Tapi, lihatlah

Saat ini kami tertawa, malah sampai berkaca-kaca bukan karena sedih tetapi menyadari kepolosan kami saat itu dan terharu bahwa kami masih memiliki pengalaman seru yang dapat diceritakan. Menyadari bahwa kami, sudah sejauh ini belajar, berpisah, kemudian berkumpul kembali. Menyadari bahwa kami telah melewati dua dasawarsa ini dan menyadari bahwa kami bukan anak SD lagi.

Ah, begitu cepat perjalanan waktu

Hal ini menunjukkan bahwa sepahit apapun pengalaman kita di masa lampau, yakinlah ia akan menjadi kenangan termanis yang patut untuk diceritakan di masa mendatang.

Selamat Malam,

Salam hangat untuk teman-teman 1 Kelas SDN 1 Dompu angkatan 1997 dimanapun berada.

Saya Kangen Kalian :*

Bersama Teman SD

Bersama Teman SD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s