Review of Gramedia Lombok Competition: The Booktalk

Sore itu saya tergopoh-opoh. Setelah menyelesaikan segala macam tugas di stase bedah RSUP NTB, saya buru-buru pulang ke kos dan berganti pakaian. Tak lucu rasanya ke tempat umum jika menggunakan pakaian penuh kuman rumah sakit😀. Alasan saya terburu-buru karena administrator lombok backpacker, mas Lalu Abdul Fatah, penulis buku Travellicious Lombok lagi pulang kampung.

Melalui laman di social networknya, Ia akan mengadakan Booktalk di salah satu toko buku di Lombok. Toko Buku Gramedia Lombok. Booktalk, bagi kami masyarakat Lombok tentu jarang mendengarnya. Mungkin berbeda bagi mereka yang berada di kota-kota besar, dimana toko buku menjamur di kota tersebut. Agar tak salah mendefinisi, izinkan saya meminjam definisi dari wikipedia: Booktalk in the broadest terms is what is spoken with the intent to convince someone to read a book. Jika dibahasaindonesiakan kurang lebih suatu cara untuk mengajak seseorang untuk membaca buku.

It was my first time to attend such event

Telat,

Akhirnya saya berdiri di barisan belakang bersama teman-teman yang senasib dengan saya. Meskipun telat, saya masih sempat mendengar sharing pengalaman serta perjalanan seorang Lalu Abdul Fatah hingga ia bisa menghasilkan buku keempatnya. Ia pun mulai menceritakan berbagai macam tips dan memberi motivasi untuk tetap menulis.

Melalui Travelicius Lombok, milik rekan backpacker saya di tahun 2012. Saya mulai mengenal sang penulis. Putra asli lombok timur. Sungguh jarang, penulis muda asli putra Lombok berhasil masuk jajaran penulis yang produktif khususnya di genre cerita perjalanan. Tentu saja, acara ini tentu tidak akan berlangsung tanpa inisasi kerjasama dari Toko Buku Gramedia Lombok. Perusaahaan yang didirikan sejak 44 tahun lalu ini sebenarnya baru dibangun di lombok beberapa bulan yang lalu. Namun di usianya yang muda di Gumi Sasak ini tentu kontribusinya tidak sehijau usianya. Ya.. salah satunya dengan diadakan booktalk kali ini.

Berlokasi di lantai dua, persis di seberang kasir, booktalk pun berlangsung.

Sebagai peserta yang telat hadir. Saya pun hanya bisa berdiri di barisan belakang karena tidak mendapat kursi. Dan parahnya, saya hanya mendapatkan sesi tanya jawab. Salah satu kontributor di buku travelove ini pun menjawab pertanyaan dari peserta yang hadir. Seorang peserta bertanya kepada Mas fatah.

DSCN9860
“Bagaimana kiat untuk menulis yang baik dan layak jual?” salah seorang peserta bertanya.

Ia pun menjawab

“Untuk menjadi penulis yang baik, ia harus banyak membaca. Membaca apapun. Entah itu novel fiksi, cerita non fiksi, catatan perjalanan, dsb dan pastinya tetaplah untuk selalu menulis. Karena semakin kita sering menulis, pola tulisan kita pun akan terbentuk. Begitulah… kemampuan kita akan semakin baik seiring waktu dan seringnya kita menulis. Silahkan menulis dimana saja. Kalau saya, dulu awalnya rajin menulis di blog ketika menggunakan multiply. Semakin kita sering menulis, kualitas tulisan kita pun akan semakin baik ”

Ia menambahkan

“Bahkan, saya tertegun jika membaca tulisan saya saat zaman SMA”

“kok sepertinya alay dan lebay” tambahnya berkelakar

“Itulah, semakin kita sering menulis, maka kemampuan kita akan semakin baik. intinya, jangan berhenti menulis” ia mengakhiri jawabannya.

Entah kasihan melihat cewek mungil ini yang berdiri, Seorang mas-mas baik hati yang duduk di depan saya pun mempersilahkan untuk duduk di kursinya.

“terima kasih”, jawabku sambil tersenyum

Pertanyaan-pentanyaan dari peserta lain pun berlanjut. Mbak-mbak pegawai Gramedia pun tampak sibuk mengoper mikrofon dari satu peserta ke peserta lainnya.

Mumpung ada kesempatan bertanya, akhirnya saya pun mengajukan beberapa pertanyaan kepada The Booktalker-nya.

“Seperti yang dijelaskan oleh mas Abdul Fatah sebelumnya bahwa untuk melatih menulis maka kita harus banyak-banyak membaca. Tetapi, di luar sana, tentu ada buku-buku yang berkualitas bagus dan tidak baik dalam segi penulisan maupun cerita. Nah, pertanyaannya, adakah rekomendasi buku yang mas fatah telah baca untuk memperbaiki kemampuan menulis kami? Buku apa sajakah itu?

ia pun menjawab,

“Mbak Ira ya? “

Tampaknya ia mengenali saya, sebagai salah satu anggota di grup lombok backpacker – suatu komunitas pejalan yang ia bangun di jejaring sosial yang saat ini anggotanya ribuan.

“Ya, terima kasih atas pertanyaannya. Kalau saya, saya suka buku-buku karangan dee, gaya tulisan mbak trinity di the naked traveller-nya, catatan perjalanan mas agustinus wibowo, dan sebagai sebagainya…”

Saya menggunakan kata sebagai-sebaginya di atas karena lupa dan tidak mampu me-recall nama-nama penulis lainnya. Maafkan saya

Setelah menjawab pertanyaan saya. Pertanyaan dari peserta lain pun diladeni hingga mencapai penghujung terakhir acara.

Salah seorang pegawai Gramedia pun mengumumkan sesuatu. Mbak cantik ini menyampaikan berita gembira bahwa buku-buku yang ditulis oleh mas lalu abdul fatah dkk diskon 10 persen khusus untuk peserta Booktalk.

Saya tersenyum sumringah

“Waaah… mantaap.. kapan lagi ada diskon seperti ini” fikirku dalam hati.

Akhirnya saya membeli bukunya yang berjudul mengeja seribu wajah indonesia part 2. Tentu sebelum memutuskan untuk membeli buku tersebut saya bertanya ke petugas Gramedia.

“Mas, kira-kira buku yang bagus yang mana ya?”

Mas tersebut tersenyum

“Sepertinya yang part 2 mbak, kata teman yang baca si, bagus isinya.”

“Ini saya juga mau beli. Mumpung ada penulisnya, kan sekalian dapat tanda tangan”

Ia menambahkan

Saya pun mengangguk setuju

“Oh.. ok”

Akhirnya saya pun menjatuhkan pilihan pada buku rekomendasi mas dengan senyum manis tersebut.

Sayangnya, acara pun berakhir.

Finally, di akhir acara ada foto session bagi peserta acara booktalk dan tentu saja beserta booktalker dan para crew toko buku Gramedia.

Selain itu, tak lupa anggota grup Lombok Backpacker bernasis ria. Di depan kamera

DSCN9863

Dan saya?

me & the booktalker !

Pasti pasang muka narsis juga dong.
Nih.. bersama penulisnya.

Tentu saja, acara booktalk di sore hari itu berjalan lancar. Saya sangat bersyukur bisa menyempatkan diri untuk hadir karena bisa mendapat pengalaman baru, teman-teman baru, buku-buku baru dan pastinya memori baru. 

Toko buku gramedia, dengan pasukan 50 toko buku yang tersebar di seluruh Indonesia tentu saja berkontribusi besar bagi kemajuan bangsa Indonesia. Dengan menyediakan buku, ia telah menciptakan investasi ilmu bagi masyarakat Indonesia. Mendorong pemuda indonesia untuk aktif menulis, berkreasi dengan kemampuan positif yang dimilikinya. Ia juga menjadi pendorong untuk mendorong serta meningkatkan kreativitas para generasi penerus indonesia.

The booktalker di atas salah satunya. Ia putra asli bumi gogo rancah, dengan sasak tulen (Orang sasak asli) yang berproduktif menciptakan karya. Saya sangat yakin, setelah diadakan Booktalk ini ia akan semakin bersemangat membuat project baru selajutnya.

Gramedia, yang saat ini akan merayakan ultah pertamanya. Izinkan saya, sebagai salah satu pengunjung setiamu untuk menyampaikan selamat hari jadi yang pertama. Teruslah berkarya, berinovasi, berkreasi untuk meningkatkan kreativitas dan minat baca masyarakat indonesia dan khususnya masyarakat NTB.

Gramedia Sparkling. Tetaplah berjaya. Tetaplah cemerlang.
We Love You

4 thoughts on “Review of Gramedia Lombok Competition: The Booktalk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s