BUNG HATTA DAN CINTA KASIHNYA

“Hatta, kamu disini” katanya terkejut.

Meutia, anak hatta, ingat bahwa ayahnya lalu menyalami orang yang selalu dikritiknya itu dengan hangat

“Ah, apa kabarmu, No?”

Hatta duduk diam, menggenggam tangan sahabatnya.

Cuplikan adegan ini, terekam jelas oleh Ibu Meutia, putri pertama dari DR. HC. H. Mohammad Hatta, 2 hari sebelum Ir. Soekarno menghembuskan nafas terakhirnya. Dikenal dengan nama Bung Hatta, Wakil presiden pertama Indonesia membesuk teman seperjuangannya dalam membela kemerdekaan Indonesia. Bagi siapapun yang membaca potongan dialog di atas akan merasa bergetar bagaimana, sang Dwitunggal bertemu kembali dalam masa-masa terakhir. Bung Hatta, sebagaimana diceritakan dalam beberapa buku adalah seorang tipikal yang serius, pendiam, kaku, tidak mudah dipahami, dan kutu buku. Namun, dibalik itu semua, Ia menunjukkan kepada kami, generasi muda bahwa Ia memiliki cinta kasih. Cinta kasih kepada seorang sahabat,  seseorang yang ia kritisi, seseorang yang di kemudian hari tidak sepaham lagi dengannya.

Bagi saya, cinta kasih dari seseorang tidaklah perlu diucapkan, dilafalkan. Namun, cinta kasih itu merupakan cerminan suatu tindakan dari hati yang tulus untuk memahami keadaan seseorang, membantu kesulitan seseorang atau saling mengerti satu sama lain. Layaknya Bung Hatta, meskipun beberapa kenalannya mengatakan beliau memiliki karakter yang kaku, namun cinta kasih ia tunjukkan dengan cara yang berbeda. Ia sangat cemas dan khawatir ketika salah satu putrinya terjatuh dari gendongannya, cemas terhadap kepemimpinan Soekarno yang menyebabkan Ia mengundurkan diri dan mencari jalan lain untuk mengkritisi presiden dan secara sederhana turun ke masyarakat serta berdialog mengenai masalah yang dialami. Ia tidak sungkan untuk turun ke masyarakat dan mendengar langsung keluhan yang dialami oleh masyarakat. Inilah bentuk cinta kasih yang ia tunjukkan.

Bagi saya, cinta kasih yang dimiliki oleh Bung Hatta menjadi inspirasi tersendiri bagi saya. Saya bukanlah seseorang yang piawai dalam berpolitik ataupun menulis seperti Bung Hatta. Saya hanyalah seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran biasa di daerah Indonesia Tengah yang risau dengan kondisi kesehatan masyarakat Indonesia. Saya yakin, di dasar hati yang paling dalam, setiap orang memilki cinta kasih seperti yang dimiliki Bapak Mohammad Hatta. Atas dasar inilah, selama 5 tahun terakhir, saya menghabiskan waktu sebagai pengurus dan relawan dalam organisasi sosial kemanusiaan yaitu Bulan Sabit Merah Indonesia Cabang Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebagai tenaga medis, kami bertugas mendidik masyarakat untuk “melek” terhadap kesehatannya, mengadakan bakti sosial ke daerah-daerah pelosok Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan membangun Klinik BSMI yang dibayar atas dasar sukarela pasien. Program terakhir inilah sangat membantu masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang sulit untuk mendapatkan akses pengobatan.

Bulan Sabit Merah Indonesia adalah salah satu organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kesehatan. Kiprah BSMI Provinsi NTB sejak didirikan pada tahun 2010 meluas dari provinsi Nusa Tenggara Barat hingga Nusa Tenggara Timur. Bakti sosial difokuskan ke daerah pelosok dengan akses kesehatan yang cukup sulit, penanggulangan bencana, khitanan massal serta pembentukan Bulan Sabit Remaja di pondok pesantren. Seluruh kegiatan ini semat-mata didasarkan atas salah satu dari 7 pilar karakter FIM yaitu cinta kasih.

Indonesia, dengan segala kekayaan yang Ia miliki, tidaklah sekaya masyarakatnya. Suatu Ironi bagi tanah subur yang katanya, bahkan tongkat kayu jadi tanaman. Kemiskinan berkaitan erat dengan terjadinya suatu penyakit dan gangguan kesehatan. Sama halnya dengan pendidikan. Rendahnya tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh terhadap tingkat ekonomi dan derajat kesehatannya. Sehingga tantangan generasi muda saat ini adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan pendidikan dengan tujuan mengurangi kemiskinan. Sesuai dengan cita-cita dari Bung Hatta, menjadi Indonesia yang merdeka, bersatu berdaulat untuk mencapai Indonesa yang adil dan makmur.

Bagi saya, cinta kasih yang dimiliki oleh Bung Hatta dilengkapi dengan kepandaiannya berbahasa, kedisiplinannya, keuletannya, kejujuran, keberanian, keteguhan, kesederhanaan yang Ia miliki, sungguh, seharusnya menjadi cerminan bagi generasi muda Indonesia dalam mengisi kemerdekaan yang telah susah payah beliau dan pendahulu kita perjuangkan. Dengan begitu, saya sedikit bisa menghela nafas lega, dengan mengisi kemerdekaan ini dengan sedikit keilmuan yang saya miliki.

Akhir kata, dengan mengikuti Forum Indonesia Muda ini, saya berharap dapat mengenal sosok Bung Hatta lebih jauh dan bertemu dengan sosok-sosok muda yang menginspirasi serta membagi semangat untuk memajukan Indonesia demi Indonesia yang lebih baik.

Sumber Referensi:

Firmansyah Ade. 2013. Hatta Si Bung yang Jujur & Sederhana. Garasi House of Book: Jogjakarta

Yayasan Idayu. 1980. Bung Hatta Kita Dalam Pandangan Masyarakat: Mengenang 40 hari Wafatnya Bung Hatta. Yayasan Idayu: Jakarta.

*Tulisan ini sebagai salah satu syarat untuk mendaftar Pelatihan Kepemimpinan dan Karakter Forum Indonesia Muda (FIM) Angkatan 17.

One thought on “BUNG HATTA DAN CINTA KASIHNYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s